Menutup aib

Menutup aib

” Sesungguhnya orang2 yang menyukai tersebarnya berita keji di kalangan orang2 yang beriman bagi mereka akan memperoleh adzab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah Maha mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui.” ( QS. An Nur 19).

” Sesungguhnya Allah Maha Pemalu dan Maha Penutup aib. Dia mencintai sifat malu dan sifat menutup aib.” ( HR. Ahmad, Abu Dawud, dan An Nasai disahihkan oleh Albany dlm Irwaul ghalil 2793)

” Tidaklah seorang hamba menutup aib hamba yang lainnya kecuali Allah akan menutup aib orang itu pada hari kiamat.” (HR. Muslim)

” Apabila seorang hamba sahaya wanita berzina dan telah jelas perzinahan nya maka tegakkan lah hukum jilid atas dirinya dan JANGANLAH KALIAN MENCELANYA ! Kemudian bila dia berzina lagi yang kedua kalinya maka tegakan lah hukum jilid atas dirinya dan JaNGANLAH KALIAN MENCELANYA ! Apabila dia berzina lagi yang ketiga kalinya maka jual lah dia sekalipun dengan harga yang setara dengan seutas tali.” (HR. Bukhari Muslim).

” Barang siapa yang memandikan mayat dan dia menyembunyikan aib yang dia lihat pada mayat itu maka Allah akan mengampuni orang itu 40 kali.” (HR. Hakim Sahih berdasarkan syarat Bukhori dan Muslim dan Imam Dzahabi menyepakati kesahihannya).

Ahmad Bin Mahdi bercerita :

Suatu malam datang seorang wanita dari Baghdad. Dia mengaku anak seorang tokoh dan dia sedang mengalami musibah. Dia meminta kepadaku dengan menyebut nama Allah agar aku menutupi aibnya.
Aku bertanya :” Apakah musibah yang menimpamu ?”
Dia menjawab :” Aku telah berzina dan kini aku hamil. Aku telah bilang kepada semua orang bahwa engkau adalah suamiku dan aku hamil karena dirimu. Maka tolong jangan buka aibku dan tutup lah aibku ini semoga Allahpun akan menutup aibmu.”

Akupun menutup aibnya dan tidak membongkarnya sampai dia melahirkan anak yang dikandungnya.

Pada hari kedua setelah kelahiran anak itu datanglah kepala kampung kepadaku bersama sejumlah tetanggaku mengucapkan selamat atas kelahiran anak tsb. Akupun menampakkan roman kegembiraan di hadapan mereka lalu akupun menitipkan uang 2 dinar kepada kepala kampung untuk disampaikan kepada wanita itu sebagai nafkah bagi wanita itu dan anak yang baru dilahirkannya.
Demikianlah setiap bulan aku selalu menitipkan uang 2 dinar kepada kepala kampung utk disampaikan kepada wanita itu.

Setelah berlalu 2 tahun anak itupun wafat. Orang2pun datang kepadaku untuk berta’zyah. Akupun menampakkan roman wajah yang sabar dan ridho atas musibah ini.
Setelah satu bulan dari kejadian itu pada suatu malam wanita itu datang lagi kepadaku dengan membawa sejumlah uang dinar yang selama ini aku berikan kpd dia melalui kepala kampung. Sambil menyodorkan uang dinar itu dia berkata kepadaku :” Semoga Allah menutup aibmu sebagaimana engkau telah menutup aibku.”
Aku berkata kepadanya :” Dinar ini adalah pemberianku untukmu atas kelahiran anakmu. Ini adalah milikmu maka gunakanlah sekehendakmu ! ”

Lalu dia pun pergi dan gak pernah kembali. ( Qoshosh ash Solihin hal 99).

Amsterdam, 25 Des 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>